Tawassul

Tawassul

Istilah tawassul itu artinya menggunakan atau memakai wasilah (perantara). Maksudnya adalah berdoa KEPADA ALLAH dengan cara menyertakan penyebutan wasilah/perantara tertentu di dalam redaksi doa, yg dengannya diyakini atau diharapkan doa akan lebih mustajab/terkabul.

Dan bertawassul di dalam doa itu, secara umum, ada 4 macam, dimana 3 macam darinya disepakati dan yang keempat bersifat khilafiyah (diperselisihkan) diantara para ulama, sebagai berikut:

Pertama, bertawassul dg Asmaul Husna dan Sifat2 Allah Yang Tertinggi (QS. Al A'raf: 180). Seperti misalnya lafal doa: Ya Allah, dengan/melalui wasilah/perantaraan Asma-Mu dan Sifat2-Mu, kabulkanlah doa, munajat dan permohonanku..

Kedua, bertawassul dengan ibadah dan amal saleh tertentu, seperti shalat, puasa, tilawah, dzikir, infak, sedekah, bakti pada orang tua, dll. Baik itu amal ibadah yg telah usai dilakukan, kapanpun waktunya, maupun yang sedang dijalankan. 

Contoh terkenalnya adalah kisah dalam hadits muttafaq 'alaih ttg 3 orang sahabat yg terjebak di dalam sebuah goa yg tertutup oleh bongkahan batu besar, dan yg akhirnya berhasil keluar darinya, dg izin Allah, setelah masing2 berdoa dg cara bertawassul dg satu jenis amal andalan yg pernah diamalkannya di masa lalu.

Ketiga, bertawassul melali doa orang lain yang masih hidup. Atau dengan kata lain, meminta doa orang lain yg dianggap atau diharap doanya lebih mustajab. Seperti minta didoakan oleh ulama, kyai, ustadz, orang yang pergi haji/umrah atau musafir secara umum, atau minta doa kepada orang lain siapapun dia, termasuk orang biasa2 saja.

Ketiga macam tawassul diatas itu disepakati oleh seluruh ulama, tidak hanya ttg kebolehannya, tapi bahkan sepakat disunnahkan dan sangat dianjurkan.

Lalu yg keempat dan yg sifatnya khilafiyah (diperselisihkan) adalah bertawassul dengan menyertakan penyebutan orang2 saleh (khususnya yg telah wafat), baik itu nabi, sahabat, wali, ulama maupun orang2 saleh lainnya.

Nah tawassul macam keempat ini, seperti yang telah disebutkan, bersifat khilafiyah atau diperselisihkan diantara para ulama lintas madzhab.

Dimana sebagian ulama, seperti Imam Ahmad misalnya, membolehkan bertawassul dengan Nabi SAW saja. Sementara yang lain, seperti Imam Asy Syaukani dan banyak ulama lain dari berbagai madzhab, membolehkan tawassul dg Nabi SAW dan dengan seluruh ulama serta orang2 saleh pada umumnya, tanpa kecuali.

Sementara itu ada juga sejumlah ulama lain yg tidak membolehkan tawassul jenis ini dengan siapapun, baik dengan Nabi SAW ataupun apalagi dengan yang lain.

Contohnya seperti doa: "Ya Rabbi bilmushthofa balligh maqashidana.." (Ya Rabbi, dengan perantaraan Al Mushthofa/Nabi Muhammad SAW, sampaikanlah kami kepada tujuan2/harapan2/cita2 kami..).

Contoh lain misalnya seperti doa dalam shalawat badar:.. bi ahli Badrin ya Allah (dengan wasilah/perantaraan para sahabat peserta perang Badar, ya Allah..).

Dan yg terpenting ditegaskan bahwa, khilafiyah dalam masalah tawassul yg keempat ini bukankankah khilafiyah akidah, melainkan khilafiyah fiqih. 

Sehingga cara menyikapinyapun seperti cara menyikapi masalah2 khilafiyah fiqih pada umumnya, seperti khilafiyah masalah ushalli atau tidak, qunut subuh atau tidak, shalawat dg sayyidina atau tidak, tarawih 11 atau 23 rakaat, adzan Jum'at sekali atau 2 kali, dst. 

Dimana setiap muslim leluasa memilih dan mengikuti madzhab ulama manapun tentangnya, tapi disaat yg sama dia juga wajib memaklumi dan menghargai serta bertoleransi terhadap pilihan madzhab orang lain. Persis seperti dia yg tentu juga ingin bila pilihan madzhabnya dimaklumi, dihargai dan disikapi dg sikap penuh toleransi.

Oleh karenanya, maka tidak dibenarkan ada sikap penghakiman dari siapapun terhadap siapapun, dalam masalah2 khilafiyah fiqih seperti ini, misalnya dg saling membid'ahkan atau apalagi sampai saling mensyirikkan dll! 

Sumber : https://www.facebook.com/groups/KajianUstadzMudzoffar/?ref=share

Karya Di Usia Senja

Karya Di Usia Senja

 Oleh : Ahmad Syahrin Thoriq 

Jika usia pensiun menghalangi kita dari memulai melakukan hal-hal besar, ingatlah bahwa dalam sejarah sebagian orang besar justru ada yang baru memulai karyanya di usia tuanya.

Dahulu Rasulullah, Abu Bakar, Ustman dan banyak lagi sahabat yang turut dalam perang tabuk dengan menempuh jarak 600 km pada usia rata-rata di atas 60 tahun.


Umar Mukhtar tetap memimpin jihad di Libya dari usia 60 an hingga usia di atas 70 tahun. Yusuf bin Tashifin memimpin pertempuran Zalaqah di usia 74 tahun. Musa bin Nusair membuka Andalusia di usia 80 tahun. Dan Abbas bin Firnas menerbangkan pesawat pada usia 70 tahun. 

Di dunia ilmu, sang guru dari Umar bin Abdul Aziz, Shalih bin Kaisan memulai belajarnya di usia senja setelah lepas dari perbudakan, yakni 70 tahun. Dan baru berpikrah mengajar di usia 100 tahun.

Begitu juga riwayat dari ulama besar dari negeri Barat, yang menjadi salah satu bintangnya ulama madzhab Maliki, Abu Walid al Baji rahimahullah belajar agama usia 40 tahun dan baru menjadi ulama setelah berusia 70 an tahun.

Maka, jika hari ini usia senja membuat seseorang hanya berpangku tangan dari berjuang untuk agama, namun sebaliknya semakin rakus dalam memburu dunia, penyebabnya bukan karena udzur umur, tapi karena gelapnya hati oleh lumpur dosa dan jauhnya dia dari cahaya ilmu agama.

Doa Luar Biasa

Doa Luar Biasa


Suatu kali seorang anak sedang mengikuti sebuah lomba mobil balap mainan. Hari itu suasana sungguh meriah karena itu adalah babak final dan hanya 5 orang yang masih bertahan, termasuk Kevin. Sebelum pertandingan dimulai (sebut saja namanya) Kevin menundukkan kepala, melipat tangan dan berkomat kamit memanjatkan doa. Pertandingan dimulai, ternyata mobil balap Kevin yang pertama kali mencapai garis finish. Tentu Kevin girang sekali menjadi juara.

Saat pembagian hadiah, ketua panitia bertanya, “Hai jagoan, kamu pasti tadi berdoa kepada Alloh agar kamu menang bukan?” Kevin menjawab, “Bukan pak, rasanya tidak adil meminta pada Alloh untuk menolong mengalahkan orang lain. Aku hanya minta pada Alloh, supaya aku tidak menangis kalau aku kalah.” Semua hadirin terdiam mendengar itu.

Setelah beberapa saat, terdengarlah gemuruh tepuk tangan yang memenuhi ruangan.

Permohonan Kevin ini merupakan doa yang luar biasa. Dia tidak meminta Alloh mengabulkan semua harapannya, namun ia berdoa agar diberikan kekuatan untuk menghadapi apapun yang terjadi dengan batin yang teguh.

Seringkali kita berdoa pada Alloh untuk mengabulkan setiap permintaan kita. Kita ingin Alloh menjadikan kita nomor satu, menjadikan yang terbaik dalam setiap kesempatan. Kita meminta agar Alloh menghalau setiap halangan dan cobaan yang ada di depan mata. Tidak salah memang, namun bukankah semestinya yang kita butuhkan adalah bimbingan-Nya dan rencana-Nya yang paling sempurna dalam hidup kita?

Seharusnya kita berdoa minta kekuatan untuk bisa menerima kehendak Alloh yang sempurna sebagai yang terbaik dalam hidup kita.

Jadi,selalu berdoalah agar kita selalu di beri kekuatan untuk menghadapi segala cobaan dan ujian yg di berikan Alloh kepada kita,ketika ujian dan cobaan telah kita lewati,niscaya kita akan menjadi manusia yg lebih baik

Semoga Alloh selalu memberikan segala kemudahan dan kekuatan dalam menghadapi segala urusan dunia & akhirat bagi kita smua 

--------Slmt Pagi & Slmt Beraktifitas

NASIB MANUSIA SIAPA YANG TAHU

NASIB MANUSIA SIAPA YANG TAHU

Pelajaran Tauhid yg Sangat Bernilai.

Dahulu Kala, ada Seorang Petani Miskin memiliki Seekor Kuda Putih yg Sangat Cantik dan Gagah..

Suatu hari, Seorang Saudagar Kaya ingin membeli Kuda itu & Menawarnya dg Harga yg sangat tinggi....!!

Tapi Sayang Si Petani Miskin itu Tidak mau Menjualnya..!!

Lalu Teman-temannya Menyayangkan dan mengejek karena dia tidak menjual Kudanya..



Keesokan Harinya, Kuda itu Hilang dari Kandangnya..

Maka Teman-temannya Berkata :

"Sungguh Jelek Nasibmu, Padahal Kalau Kemarin Kamu Jual, Kamu Pasti Kaya, Sekarang Kudamu Sudah Hilang.."_

Tapi Si Petani Miskin hanya Diam saja Tanpa Komentar...


Namun Beberapa Hari Kemudian, Kuda si petani kembali , bersama 5 Ekor Kuda liar lainnya..

Lalu Teman-temannya Berkata :

"Wah..! Beruntung Sekali Nasibmu, Ternyata Perginya Kudamu Membawa keberuntungan.."_

Si Petani Tetap Hanya diam saja..

Beberapa hari kemudian, Anak si Petani yg Sedang Melatih Kuda-kuda Baru mereka Terjatuh dan Kakinya Patah..

Lalu Teman-temannya berkata :

"Rupanya Kuda-kuda itu Membawa Sial, lihat sekarang Anakmu Kakinya Patah.."

Si Petani itu tetap Diam tanpa komentar..

Seminggu Kemudian terjadi peperangan di wilayah itu, semua Anak Muda di desa dipaksa untuk Berperang, Kecuali Si Anak Petani itu karena tidak Bisa Berjalan..!!

Teman-temannya Mendatangi Si Petani sambil Menangis :

"Beruntung Sekali Nasibmu Karena anakmu tidak ikut Berperang, Kami harus Kehilangan Anak-anak kami.."

Barulah Si Petani Kemudian Berkomentar :

"Janganlah Terlalu Cepat membuat Kesimpulan dg Mengatakan Nasib Baik atau Jeleknya..!!

Semuanya ini adalah Suatu Rangkaian Proses yg Belum Selesai...

Syukuri & Terima Keadaan yg Terjadi Saat ini..!!

• Apa yg Kelihatan Baik Hari ini belum Tentu baik Untuk Hari Esok..??

• Apa yg Buruk Hari ini Belum Tentu buruk untuk hari Esok.??

Tetapi yg Pasti, ALLAH Paling Tahu yg terbaik Buat Kita..!!

Bagian kita Adalah, Mengucapkan syukur dalam Segala hal, Sebab itulah yg dikehendaki ALLAH di dalam hidup kita ini..

Jalan yg dibentangkan ALLAH belum tentu yg tercepat, bukan pula yg termudah.. Tapi Sudah pasti yang Terbaik...


Semoga bermanfa'at.Aamiin yarobbal alamin


Ajakan Untuk Bersaudara Kepada Sesama Muslim.

Ajakan Untuk Bersaudara Kepada Sesama Muslim.

Rosululloh shollallohu 'alaihi wa sallam bersabda:

لَا تَبَاغَضُوا, وَلَا تَحَاسَدُوا, وَلَا تَدَابَرُوا. وَكُونُوا عِبَادَ اللَّهِ إِخْوَانًا. وَلَا يَحِلُّ لِمُسْلِمٍ أَنْ يَهْجُرَ أَخَاهُ فَوْقَ ثَلَاثٍ.


"Janganlah (sesama muslim) saling marah, saling dengki, dan saling membelakangi (tidak bertegur sapa). Tetapi jadilah kalian hamba Alloh yang bersaudara. Tidak halal bagi seorang muslim (alias haram), untuk mendiamkan saudaranya sesama muslim (dengan tidak bertegur sapa) lebih dari tiga hari." (HR. Muslim no. 4641).


•• Penjelasan Singkat:

Nabi shollallohu 'alaihi wa sallam bersada:

"Janganlah (sesama muslim) saling marah, saling dengki, dan saling membelakangi (tidak bertegur sapa)."

Dalam hadits diatas Baginda Nabi melarang untuk saling marah, saling dengki (yaitu hati tidak suka jika saudara muslim mendapatkan nikmat Alloh), dan saling membelakangi (yaitu singkur-singkuran tidak mau menyapa). Nabi melarang dari ketiga hal yang disebut diatas untuk sesama muslim.

Kemudian Nabi bersabda:

"Tetapi jadilah kalian hamba Alloh yang bersaudara."

Bersaudara bukan berarti membenarkan kesalahan yang ada pada saudara muslim, bersaudara itu tetap dianjurkan untuk saling menegur dan meluruskan kesalahan saudara muslim.


Dan juga bukan berarti bolehnya menuntut 'ilmu kepada saudara muslim yang keliru dalam faham ber-islamnya. Karena umat islam telah dikabarkan oleh Nabi akan terpecah belah menjadi 73 golongan (yaitu dalam masalah pemahaman, bukan jumlah golongan), 72 golongan masuk neraka karena keliru dalam pemahaman terhadap islam (alias sesat), dan dibatasi oleh Nabi hanya 1 golongan saja yang akan masuk surga, yaitu yang benar pemahamannya terhadap agama, mereka adalah al jama'ah.


Al jama'ah adalah:

Setiap orang yang memiliki dua sifat dan karakter, yaitu:

(1) Mengikuti kebenaran. (Kebenaran yang dimaksud adalah al qur_an dan hadits shohih).

(2) Bersatu dan berkumpul dengan mereka-mereka yang berpegang dengan kebenaran tersebut. (Bukan asal bersatu dan berkumpul, yang mana disana ada pengagung kuburan dan suka meminta kepadanya, pelaku kebid'ahan dan berdakwah kepada bid'ah, ini keliru).


Maka dari itu, walaupun dia saudara muslim, jika pemahaman terhadap agama ini keliru, maka kita tidak boleh mendengarkan pengajiannya (baik di dunia maya semisal youtobe maupun di dunia nyata semisal di masjid). Karena dikhawatirkan pemahaman dia masuk kepada 72 golongan yang di ancam masuk neraka. (Penjelasan masalah ini sangat panjang dalam pembahasan manhaj).


Dan walaupun ada kekeliruan pada saudara muslim, tetap kita mengikat persaudaraan dengan mereka. Kita mencintai mereka sesuai kadar iman, tauhid, dan konsistennya terhadap sunnah. Tentu bagi yang benar keimanannya, tauhidnya, dan besar konsistennya terhadap sunnah porsinya lebih besar lagi untuk kita cintai.

Kemudian Nabi bersabda:

"Tidak halal bagi seorang muslim (alias haram), untuk mendiamkan saudaranya sesama muslim (dengan tidak bertegur sapa) lebih dari tiga hari."


Melalui hadits di atas haram hukumnya seorang muslim tidak bertegur sapa kepada muslim lainnya karena permasalahan pribadi dan permasalahan yang semisalnya dari perkara duniawi.


Namun jika tidak bertegur sapa karena permasalahan agama maka tidak mengapa lebih dari tiga hari, semisal dia mencela manhaj salaf, atau mencela 'Ulama' pembawa sunnah, dan semisalnya. Tujuannya adalah agar dia jera, bukan hanya melampiaskan kemarahan pribadi.



Tragedi Masa Lalu yang Terasa Lucu di Kemudian Hari

Tragedi Masa Lalu yang Terasa Lucu di Kemudian Hari

Oleh: Ita Nurita 

“Hidup yang dipandang tragedi dahulu, bisa jadi sekarang menjadi komedi.” (Charly Caplin) Qoute ini saya dapatkan dari webinar yang diselenggrakan komunitas Kovid Psikologi. 

Bahasannya seputar psikologi dan tips agar bisa tetap mengaktualisasi diri meski di era pandemi dan krisis yang tidak pasti kapan berakhirnya. Ada banyak kata kunci yang saya catat. Tapi kali ini, saya tertarik menulis tentang qoute Charly C

aplin di atas. Apa maknanya menurut Anda? Apa maknanya menurut saya? Bisa jadi jawabannya berbeda, tergantung pengalaman dan perasaan masing-masing. 

 Pernah mengalami tragedi di masa lalu adalah pengalaman pahit kebanyakan orang. Tapi tak semua mengakui bahwa sebuah tragedi itu selalu pahit, berat, dan penuh luka. Meski namanya tragedi, konotasinya memang sebuah kepahitan. Tragedi masa lalu bisa berhubungan dengan banyak orang atau lingkungan. Seperti permusuhan antar sahabat, perpisahan antar pasangan, perseteruan antar saudara, dan banyak lagi kasus lainnya. 

 Dulu, situasi semacam ini bisa membuat kita terpuruk, down, jatuh atau bahkan mengalami kesedihan yang dalam. Sejak usia 12 tahun, saya sudah menjadi yatim. Akibatnya saya tidak bisa kuliah sebagaimana teman-teman lainnya. Sementara menganggur, saya diajak ke Samarinda oleh om dan tante dari jalur ibu. 

Tinggal menumpang pada orang lain bukan sesuatu yang saya senangi. Saya merasa tidak merdeka Saya merasa tidak bebas untuk menentukan masa depan, termasuk urusan jodoh. Saya menolak tawaran jodoh dari keluarga besar om. 

Sayangnya, keputusan ini mendatangkan fitnah. Saya dianggap membangkang. Padahal waktu itu, saya hanya ingin pasangan yang lebih baik dari saya. Apalagi saat itu saya begitu semangat setelah ngaji pada seorang ustadzah yang kami sebut murobbiyah. Rupanya penolakan tersebut membuat keluarga besar menjadi kecewa. 

Apalagi Om yang menunjukkan perhatian lebih pada saya dengan niat mengasuh anak yatim dan membuat anak-anak beliau cemburu pada saya. Tak ayal, anak-anak Om pun terkesan memusuhi saya. Tragedi inilah yang membuat saya, pada waktu itu, benar-benar sedih. Saking sedihnya, saya harus menenangkan diri di rumah teman ngaji selama berhari-hari. 

Tak terasa, 25 tahun berlalu. Cerita itu jadi kenangan. Saya merasa, cerita masa lalu itu kadang terasa lucu kalau diingat-ingat. Begitu pula cerita kita dengan sahabat, saudara, dan lainnya. 

Pada saat itu kemarahan, kebencian, dan sakit diekspresikan dengan berbagai cara. Andai bisa ditulis seperti saat ini, tentu akan menjadi cerita lucu di kemudian hari. Tidak hanya kelucuan tragedinya, tapi juga kelucuan cara menulisnya. Jadi, biarkan cerita itu terjadi hari ini. 

Kelak kita saling menertawakan diri sendiri. Kalau ini terjadi saat kumpul-kumpul di dunia, bagaimana nanti kisah keadaan kita di akhirat ya? 

Semoga Allah karuniakan kita untuk bisa reuni akbar di surga dengan berbagai cerita lucu tragedi semasa di dunia.

 

sumber : orangramai

Keberkahan Waktu

Keberkahan Waktu

Rasulullah SAW menyebutkan bahwa salah satu tanda-tanda kecil dekatnya hari kiamat adalah waktu yang terasa semakin singkat.

“Tidak akan tiba hari kiamat hingga waktu semakin singkat. Satu tahun bagaikan satu bulan, satu bulan bagaikan satu minggu, satu minggu bagaikan satu hari, satu hari bagaikan satu jam. Dan satu jam bagaikan api yang membakar daun kurma” (HR. Ahmad-Tirmidzi).
Hilangnya Keberkahan Waktu

Para ulama hadits seperti Qadhi ‘Iyadh, Al-Nawawi, Ibn Abi Jamrah dan lain-lain menafsirkan singkatnya waktu ini dengan hilangnya keberkahan. Mereka berkata, “Maksud dari singkatnya waktu adalah hilangnya keberkahan dalam waktu tersebut. Sehingga satu hari misalnya tidak mampu dimanfaatkan melainkan seperti satu jam saja.”

Apa yang dimaksud keberkahan? Secara bahasa, kata “berkah” (barakah) bermakna bertambah (al-ziyadah) dan berkembang (al-nama). Kata ini lalu digunakan untuk menunjukkan “kebaikan yang banyak.”





Keberkahan yang paling penting adalah keberkahan di dalam waktu kita. Sebab, kita diciptakan untuk sebuah tugas maha penting, dan waktu adalah modal yang paling utama agar dapat menunaikan tugas tersebut dengan baik. Tanpa keberkahan dan manajemen waktu yang baik, seseorang tidak akan dapat menunaikan tugas itu dengan sempurna.
Waktu Lebih Berharga Daripada Uang dan Harta

Oleh karena itu, bagi hamba-hamba Allah yang sejati, waktu jauh lebih mahal dan lebih berharga daripada uang dan harta benda apapun di dunia ini. Keberkahan dalam waktu menjadi dambaan mereka melebihi yang lainnya.

Imam Abu Bakar bin ‘Ayyasy berkata, “Andai seseorang kehilangan sekeping emas, ia akan menyesal dan memikirkannya sepanjang hari. Ia mengeluh: Inna lillah, emas saya hilang. Namun belum pernah seseorang mengeluhkan: satu hari telah berlalu, apa yang telah aku lakukan dengannya?”

Seorang ahli hadits kenamaan Abu Bakar Al-Khatib Al-Baghdadi sering kali terlihat sedang membaca sambil berjalan sebab ia tidak ingin membuang waktunya percuma. Imam Ibn Rusyd, ahli fiqih dan filsafat terkenal, juga diceritakan tidak pernah meninggalkan membaca buku dan mengajar sepanjang hidupnya kecuali dua malam saja: yaitu ketika ia menikah dan ketika bapaknya meninggal dunia.

Imam Abdul Wahab Al-Sya’rani bercerita tentang gurunya Syeikh Zakaria Al-Anshari, “Selama dua puluh tahun aku melayaninya, belum pernah aku melihat beliau dalam kelalaian atau melakukan sesuatu yang tak berguna, baik siang ataupun malam hari. Jika seorang tamu berbicara terlalu panjang kepadanya, beliau segera berkata dengan tegas: ‘Kau telah membuang-buang waktuku.’
Dari Mana Kita Bisa Melihat Keberkahan Waktu?

Keberkahan waktu dapat kita lihat di sejarah hidup tokoh-tokoh Islam sejak masa sahabat. Mereka berhasil melahirkan prestasi besar hanya dalam masa yang sangat singkat sehingga agak sukar diterima logika “zaman hilang-berkah” seperti saat ini.

Zaid bin Tsabit, misalnya, berhasil melaksanakan perintah Nabi Saw untuk menguasai bahasa Yahudi (Suryaniah) –percakapan dan tulisan- hanya dalam 17 hari saja. Padahal pada saat itu belum ada alat bantu modern audio visual seperti sekarang ini. Bandingkan dengan diri kita yang memerlukan masa bertahun-tahun untuk mempelajari bahasa Arab atau Inggris tanpa memperoleh hasil yang membanggakan.

Para penulis biografi menceritakan bahwa Al Hafiz Ibn Syahin (seorang ulama hadits kenamaan) menulis 330 judul buku, salah satunya kitab tafsir Al Qur’an setebal seribu jilid. Di akhir hayatnya, ia meminta tukang tinta untuk menghitung berapa banyak tinta yang telah digunakannya untuk menulis. Ternyata jumlahnya mencapai 1800 liter tinta.

Sebagian ulama meriwayatkan bahwa Syeikh Abdul Ghaffar Al Qushi menulis sebuah kitab fiqih dalam mazhab Syafii setebal seribu jilid di kota Akhmim. Belum lagi Imam Al-Ghazali yang hanya hidup 55 tahun, dan Al-Nawawi yang hidup hanya 45 tahun, namun berhasil menulis banyak buku berharga berjilid-jilid. Juga Imam Ibn Al-Jauzi yang dikatakan Imam Al-Dzahabi, “Aku tidak mengetahui seorang ulama yang menulis sebanyak tulisan orang ini.

Mereka memiliki waktu yang sama dengan kita: satu bulan terdiri dari empat minggu, satu minggu terdiri dari tujuh hari, dan satu hari terdiri dari 24 jam. Namun keberkahan dalam waktu memungkinkan mereka berkarya dan membuahkan prestasi lebih banyak dari kita. Keberkahan waktu benar-benar telah hilang pada masa kini, sehingga sering kali waktu terlewat tanpa produktivitas amal yang berarti.

Oleh: Satria Hadi Lubis

Fenomena Kajian Akhir Zaman

Fenomena Kajian Akhir Zaman

Belakangan ini, kajian tentang fenomena akhir zaman amat laris manis. Masjid membludak dipadati jamaah yang penasaran dengan cerita-cerita tentang Dajjal, Nabi Isa as dan Imam Mahdi.

Saya senang dengan realitas ini. Sayangnya, sejumlah muballigh sering kebablasan. Karena ini adalah perkara ghaib, maka seyogianya, pembahasannya mesti dicukupkan pada uraian periwayatan yang shahih, atau seminimalnya hasan.

Jika ada tafsiran ulama, harus disebutkan menurut pendapat siapa. Sehingga umat tahu bahwa pendapat tersebut bukanlah absolut atau ijma’ yang wajib diikuti.

Sementara bila ada tambahan yang berasal dari hadits-hadits yang dhaif, maka harus ada keterangan penjelasnya. Apalagi jika dibumbui dari kisah israiliyat, bahkan cerita anonim yang lebih tepat disebut mitos.


Yang paling mengerikan bagi saya, adalah memastikan peristiwa tertentu di masa kini dengan nubuwwat Nabi SAW.



Misalnya ada sebagian pegiat kajian akhir zaman yang menyebut bahwa Imam Mahdi telah bersama Ashhabu Rayatis Suud yang kemudian dipastikan pasukan tersebut adalah Thaliban di Afghanistan.
Ada pula Ustadz Abu Fatiah Al-Adnani yang pernah menulis buku “Dajjal Telah Muncul dari Khurasan”.

Intinya, ada seseorang yang dituduh sebagai Dajjal bernama Sai Baba karena dianggap memiliki banyak kesaktian. Eh, ternyata Sai Baba ini meninggal dunia pada tahun 2011. Gugurlah semua spekulasi selama ini. Rupanya, si terduga hanyalah sesosok guru spiritual belaka.

Sebenarnya, bisa dibilang URB terjerumus di lubang yang sama. Beliau mencampuradukkan dalil syar’i dengan dongeng, sehingga kebenaran justru semakin samar.

Misalnya, beliau mengatakan bahwa Tembok Raksasa Cina dibangun oleh raja Mesir yang beriman Dzulqarnain untuk menghalangi Ya’juj dan Ma’juj.

Begitupun Piramida di Giza, klaimnya, juga di-arsiteki oleh Dzulqarnain. Warganet lalu dengan genit bertanya, “Katanya Dzulqarnain orang beriman, kok bikin bangunan berbentuk simbol kafir (segitiga)?” Hehe. Siapa yang tidak bingung dengan kontradiksi ini.

Dalam ceramahnya, URB berulang kali menyebut nama Syaikh Hamdi bin Hamzah Abu Zaid sebagai sumbernya. Diketahui Syaikh Hamdi adalah penulis buku “Fakk Asrar Fii Dzi Al-Qarnain Wa Ya’juj Wa Ma’juj”.

Di mana, terbit pertama kali 1425 H, dan diterjemahkan di Indonesia oleh Penerbit Almahira dengan judul Munculnya Ya’juj & Ma’juj di Asia, Misteri Perjalanan Dzulqarnain ke Cina.

Merujuk buku itu, URB juga meyakini bahwa etnis Cina merupakan keturunan Ya’juj dan Ma’juj.
Yang paling lucu adalah saat URB dalam unggahan akun instagram resminya menyebut bahwa Samiri berganti-ganti nama.

Di zaman Nabi Isa, ia bernama Yudas Iskariot. Setelah dia selamat dari penyaliban, dia berganti nama menjadi Rasul Paulus yang katanya berciri mirip Dajjal.

Setelah diusir Barnabas, ia mengembara ke Segitiga Bermuda. Masih menurut URB, julukan Paman Sam bagi Amerika Serikat berasal dari nama Samiri, sang pembuat patung sapi.
Jeratan Hoaks

Benarkah demikian? Setidaknya laman wikipedia melansir bahwa Paman Sam adalah sebuah istilah yang diciptakan di AS pada masa perang pada tahun 1812 untuk melambangkan Amerika Serikat.
Nama istilah ini berasal dari nama seorang penyuplai daging bernama Samuel Wilson yang menyediakan daging-daging kepada para tentara, dalam tong-tong bertuliskan “U.S.” (singkatan dari United States): Amerika Serikat; tetapi oleh para tentara dijadikan singkatan dari Uncle Sam: (Paman Sam).

Selanjutnya, salah satu syubhat pemikiran URB adalah pernyataannya bahwa Segitiga Bermuda yaitu kawasan perairan laut antara Florida, Puerto Rico dan Bermuda merupakan tempat azazil (iblis) membangun istana. Itulah sebabnya banyak kapal dan pesawat terbang hilang di sana.


Menurutnya, Azazil membangun istana-istana dari kristal cahaya. Demikianlah sebabnya mengapa kapal itu tampak menghilang.

“Sebetulnya tidak hilang. Ada, tapi tertutup kristal cahaya,” tegas Pembina One Ummah Movement ini.

Selain itu, URB menyebut bahwa kristal cahaya itu pula yang menjadi trik pesulap David Copperfield menghilangkan patung Liberty. Entah dari mana sumbernya.

Tapi dalam forum bersama RK di Pusdai, URB menukil buku “Dajjal Akan Muncul dari Segitiga Bermuda” karya Muhammad Isa Dawud.

Si penulis itu jelas bukan ulama. Ia hanyalah jurnalis Mesir yang sebelumnya ngetop, gara-gara buku kontroversialnya penuh syubhat akidah, “Dialog dengan Jin Muslim”.

Jika kita punya ketelitian memverifikasi, kita dengan mudah bisa menemukan bahwa sang muballigh telah termakan hoaks lawas yang sudah bertahun-tahun diklarifikasi. Tapi saban tahun, kerap muncul lagi dan dipercaya orang.

Misalnya, URB mengatakan bahwa ketika Utsman bin ‘Affan menyusun mushaf, beliau mencari kertas ke Cina dan bertemu ulama Uyghur namanya Wong Fei Hung.

Padahal, Wong Fei Hung lahir 9 Juli 1847, meninggal 17 April 1925. Bagaimana logikanya bisa bertemu dengan Sayyidina ‘Utsman? Praktisi ilmu beladiri Hung Ga ini lahir di Foshan, sebelah timur Tiongkok.

Kenapa tiba-tiba jadi ulama Uyghur yang berbasis di Xinjiang, sebelah barat negeri Tirai Bambu tersebut? Ini jelas hoaks lawas yang sudah terbantah.

Di potongan video yang viral, URB menyebut Unidentifyed Flying Object (UFO) adalah kendaraan pengintai dajjal untuk mengintai kekuatan dunia.

Ia juga menyebut crop circle sebagai kode konspirasi dunia. Seperti crop circle yang muncul di Jogja beberapa waktu lalu.

Duh, sedihnya mendengarkan itu. Karena faktanya, pada tahun 2011, seorang mahasiswa sains mengaku membuat “jejak UFO” tersebut di areal persawahan Jogotirto, Berbah, Sleman, Jogjakarta.
Masih di video yang sama, URB mengatakan bahwa UFO mendarat di Area 51 Nevada, Amerika Serikat.

“Di sana take over, landing-nya UFO. Di sana UFO dibuat,” ujarnya.
Artikel Tony Firman di Tirto.id pada 17 Juli 2019 kemarin, telah memaparkan bagaimana sederet teori konspirasi lahir dari gurun Nevada.

Di instalasi militer rahasia AS yang letaknya 129 km di sebelah barat laut Las Vegas tersebut, hanyalah fasilitas pengujian pesawat terbang, helikopter, pesawat tanpa awak dan aneka teknologi militer.

Tidak ada hubungannya dengan UFO. Satu-satunya yang bikin isu UFO di sana heboh adalah pengakuan George Knapp pada tahun 1989 bahwa ia menyaksikan foto-foto otopsi alien dan pemeriksaan UFO, saat ia bekerja di sana.

Ah, sudahlah. URB sudah pasti tak suka dituduh bahwa konten ceramahnya adalah cocoklogi. Namun, lihat bagaimana ia menyebut Y2K dalam presentasinya sebagai singkatan dari Year of Yehuda Kingdom? Ini jelas ngawur.

Sebab Y2K aslinya adalah kependekan dari Year 2000 untuk merujuk pada problem akibat kesalahan pengitungan komputer, terkait sistem penyimpanan tanggal yang cuma menyediakan dua digit untuk tahun. Tak ada yang lain.

Tak hanya itu, sang ustadz menjelaskan materi utak-atik gathuk tentang pesawat yang menabrak gedung kembar WTC.

Beliau menerangkan kode penerbangan pesawat penabrak adalah Q33NY yang jika dibuka dalam aplikasi Microsot Word dan font-nya diganti menjadi Wingdings maka akan berubah menjadi simbol pesawat, note kembar, tengkorak dan bintang David (lambang bendera Israel).

Benarkah ini?
Ya jelas keliru. Aslinya dua pesawat penabrak WTC adalah AAL11 dengan nomor registrasi pesawat N334AA, dan UA175 dengan nomor registrasi pesawat N612UA.
Sudah Tabayyun Belum?

Jadi sudah paham dengan argumen saya kan? Tapi tak semua bisa mencernanya. Seorang kawan menegur saya via Whatsapp, “Antum sudah tabayyun dengan beliau belum?”

Saya jawab apa adanya. Ketemu saja belum, bagaimana saya mau tabayyun. Beragam pertanyaan dan kritik warganet di youtube dan instagram saja tak ada yang digubris beliau.

Lagi pula, sebagian kekeliruan telah nyata sebagai kabar bohong. Tak perlu lagi klarifikasi.
Pasti akan ada yang menuduh saya sombong. Toh saya bukan ulama juga. Ya, saya memang bukan ahli agama. Saya tidak punya kapasitas berfatwa.

Tapi saya adalah seorang manusia yang mencoba memverifikasi setiap kabar yang saya terima dan tidak lekas-lekas menyebarnya.

Saya ingat betul petuah Baginda yang mulia SAW, “Cukuplah seorang Muslim disebut pendusta, jika ia mengatakan semua yang ia dengar”.

Lantas, ada beberapa teman yang menyarankan saya hadir saja di kajian URB, agar bisa bertanya secara langsung dan mendesak beliau agar menyebutkan maraji’ alias referensi atas pernyataan-pernyataannya yang sensasional itu.

Terima kasih atas masukannya. Nanti akan saya pertimbangkan matang-matang. Saya hanya khawatir, ketika ditanya secara tajam, URB hanya menjawab seperti ketika ditanya oleh penyidik kepolisian saat dijadikan tersangka hoaks petugas KPPS tewas diracun:
“Tentang apa yang diberitakan kalau saya menyebarkan berita bohong terkait dengan anggota KPPS yang meninggal dunia, itu saya hanya mengutip saja dari pemberitaan yang sudah viral di media sosial”.


Bagaimana? Coba disimak baik-baik sindiran pengarang Malaysia ini, “Orang-orang di zaman akan datang, akan gemar sekali bercakap-cakap pada perkara-perkara yang mereka tidak tahu, merendahkan mutu orang lain: menghina dan mencela dengan tidak usul, periksa lebih dahulu dan dengan tidak bersebab apa-apa,” (Ishak Haji Muhammad, Anak Mat Lela Gila).
Wallahu a’lam bish-shawab.


Oleh : Anugrah Roby Syahputra
Kamu Dulu Bukan Siapa Siapa Tanpa Kami, Benarkah?

Kamu Dulu Bukan Siapa Siapa Tanpa Kami, Benarkah?

Kamu Dulu Bukan Siapa Siapa Tanpa Kami, Benarkah?

Saat Imam Syafi’i memilih berbeda dan Gurunya, Imam Malik, maka itu kebaikan. Bukan tidak berterima kasih pada Gurunya

Saat Imam Ahmad berbeda dengan Imam Syafii maka itu bukan tidak hormat, tetapi pilihan atas pemahaman.

Perbedaan pilihan itu bukan futur, bukan gugur dijalan dakwah.

Dulu kita belajar di pondok Nahdhiyin lalu seiring waktu belajar di Muhammadiyah dan menjadi pengurus Muhammadiyah. Apakah ini futur dan gugur di Jalan dakwah? Bukan, dia tetap dijalan Alloh. Hanya pilihan berbeda.


 Dulu aktif di Muhammadiyah, lalu aktif di Al Irsyad, apakah ini gugur dijalan dakwah?

Tidak, dia istiqomah dan ahlu sunnah, namun dia hanya memilih sebuah keputusan yang berbeda.

Dulu di ikut salafi lalu ngaji di Tarbiyah, apakah akan disebut mendapat hidayah? Hasbunalloh, bukan, dia sedang berpindah dari fikroh ahlu sunnah ke fikroh ahlu sunnah yang lain.

Dulu belajar di Tarbiyah lalu jadi Salafi, apakah akan antm sebut berguguran di jalan dakwah?

Hasbunalloh, bukan. Dia sedang berpindah kamar tetapi masih dalam satu rumah.

Yang menyedihkan adalah saat dia berpindah lalu engkau sebut gugur dari jalan dakwah.

Yang menyedihkan adalah saat makna dakwah menjadi milik satu kelompok.

Islam sampai di dada kita, karena jasa kedua orang tua kita, yang pernah belajar dari orang tuanya, dari guru ngajinya, dari ustadnya dari kyai-nya dan terus ke atas sanad itu bersambung.

Semua punya jasa atas diri kita hari ini, dari manapun

Ada yang menganggap bahwa jamaahnya paling berkah dan jamaahnya lah sang pemilik dakwah

Beristighfarlah, karena Islam sampai dirumah kita karena perjuangan para sesepuh, kyai kyai yang ikhlas mengajari kedua orang tua kita.

Tegakah kita mengatakan mereka tidak dijalan dakwah?

Jadi, doakanlah mereka yang memilih jalan berbeda, sebagaimana Imam Ahmad senantiasa mendoakan Imam Syafi’i dalam sholatnya, 40 tahun lamanya.

Para imam itu saling menghormati dan saling memuji. Tidak ada diantara mereka merasa paling berjasa atas yang lain.

Merasa berjasa adalah penyakit hati yang merusak amal.

يَمُنُّونَ عَلَيْكَ أَنْ أَسْلَمُوا قُل لّا تَمُنُّوا عَلَيَّ إِسْلامَكُم بَلِ اللَّهُ يَمُنُّ عَلَيْكُمْ أَنْ هَدَاكُمْ لِلإِيمَانِ إِن كُنتُمْ صَادِقِينَ

“Mereka merasa telah berjasa kepadamu dengan keIslaman mereka. Katakanlah, “Janganlah kamu merasa berjasa kepadaku dengan keIslamanmu, sebenarnya Allah yang melimpahkan nikmat kepadamu dengan menunjukkan kamu kepada keimanan, jika kamu orang yang jujur.” ( Al-Hujurat: 17)

At-Thabari rahimahullah berkata,

وذُكر أن هؤلاء الأعراب من بني أسد, امتنوا على رسول الله صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّم, فقالوا: آمنا من غير قتال, ولم نقاتلك كما قاتلك غيرنا, فأنـزل الله فيهم

“Disebutkan bahwa mereka adalah Arab badui dari bani Asad yang menyebut-nyebut (jasa) kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam , mereka berkata, kami masuk Islam tanpa peperangan, kami tidak memerangimu sebagimana orang yang lain. Maka Allah menurunkan Ayat ini (Tafsir Ath Thabari)

Merasa telah berjasa adalah buah dari kekhilafan ruhani, dan keringnya keikhlasan.

Ibnu Katsir menjelaskan

{قُلْ لَا تَمُنُّوا عَلَيَّ إِسْلامَكُمْ}

Katakanlah, "Janganlah kamu merasa telah memberi nikmat kepadaku dengan keislamanmu.” (Al-Hujurat: 17)

karena sesungguhnya hal itu manfaatnya kembali kepada dirimu sendiri, Allah-lah yang sebenarnya memberi nikmat kepada kalian karena Dialah yang menunjukkan kalian kepada Islam.

Sesungguhnya Alloh lah yang telah memberikan hidayah pada siapapun yang dikehendakiNYA.

Hidayah itu Alloh turunkan dari sebab yang banyak.

Kewajiban bagi yang mendapatkan hidayah adalah bersyukur pada Alloh dan berterima kasih pada orang yang menjadi sebab datangnya hidayah.

Kewajiban bagi para dai yang telah menyeru adalah mengkhilaskan diri, dan tidak merasa berjasa atas hidayah. Karena Alloh lah yang memiliki hidayah.

Jangan pula merasa telah membesarkan dan memberi rizki. Astaghfirulloh

Karena Alloh lah yang menciptakan dan DIA pula yang menjamin rizki hambaNYA.

DIA pula yang mengangkat dan merendahkan derajat seseorang.

Mari berhenti merasa berjasa, agar amal tidak sirna bersama usia.

Wallohua’lam

*Ust M Nadhif Khalyani Founder RLC*
Firaunpun Membuat Hoax

Firaunpun Membuat Hoax

FIR'AUN PUN MEMBUAT HOAX

By M. Nadhif Khalyani


Nabi Musa dan Nabi Harun mendapat titah untuk mendatangi Fir'aun di istananya. Dakwah harus disampaikan. Setelah dari Madyan, Nabi Musa bergegas menuju Mesir, bergerak bersama saudaranya, Harun as.

 Nabi Musa membawa risalah, mengajak pada Tauhid, mengingatkan tentang siksa dan azab NYA, serta *bukti valid* berupa Mu'jizat, tongkat yang berubah menjadi Ular dan tangan yang bercahaya. Dua "bukti valid" Mu'jizat ini Alloh berikan untuk memperteguh Musa. (Qashashul Anbiya' : 501)

Terjadilah dialog logika antara Fir'aun dan Musa.

Perdebatan panjang ini dimenangkan oleh Nabi Musa dan Nabi Harun. Semua logika, argumen Fir'aun bisa dikalahkan dengan hujjah dan akal sehat Nabi Musa.

Ibnu Katsir menyebutkan tema tema perdebatan tersebut di buku beliau Qashashul anbiya, diantaranya tentang Rabb, ummat terdahulu, hingga Fir'aun menantang Musa untuk menunjukkan bukti bahwa beliau adalah utusan Alloh. Semua perdebatan dimenangkan Nabi Musa dengan argumen yang sulit dibantah.


Maka disepakatilah waktu untuk membuktikan kebenaran Musa. Nabi Musa hendak menunjukkan *"bukti valid"*.

Allah SWT berfirman:

قَا لَ مَوْعِدُكُمْ يَوْمُ الزِّيْنَةِ وَاَ نْ يُّحْشَرَ النَّاسُ ضُحًى
"Dia (Musa) berkata, (Perjanjian) waktu (untuk pertemuan kami dengan kamu itu) ialah pada hari raya dan hendaklah orang-orang dikumpulkan pada pagi hari (duha)."
(QS. Ta-Ha 20: Ayat 59)

Yaitu hari raya mereka dan hari libur mereka, dimaksudkan agar semua orang dapat menyaksikan kekuasaan Allah atas apa yang dikehendaki­Nya melalui mukjizat nabi, dan kalahnya ilmu sihir menghadapi mukjizat nabi. (Tafsir Ibnu Katsir Surah Thaha : 59).

Maka hari tersebut disepakati menjadi *"event resmi"* yang akan membuktikan benar dan salah. Event resmi tersebut menjadi ajang "pertarungan" 2 kubu, yakni Nabi Musa dan Para Penyihir Fir'aun

Singkat cerita, pada event pertarungan resmi tersebut para penyihir Fir'aun kalah. Fir'aun terpojok karena event tersebut disaksikan oleh rakyat.

Fir'aun pun berulah.....

Dia berusaha memutarbalikkan fakta...

Ibnu Katsir mengatakan Fir'aun mengucapkan kata-kata yang ia sendiri, para ahli sihir, dan semua orang mengetahui bahwa ia dusta karena dikalahkan.

إِنَّهُ لَكَبِيرُكُمُ الَّذِي عَلَّمَكُمُ السِّحْرَ

Sesungguhnya dia adalah pemimpin kalian yang mengajarkan sihir kepada kamu sekalian. (Thaha: 71)

Yaitu kalian telah belajar ilmu sihir dari Musa dan kalian telah sepakat dengannya untuk melawanku —juga rakyatku— agar kalian menampak­kan kemenangan kalian terhadapku. (Tafsir Ibnu Katsir Surah Thaha 71)

Tidak hanya sampai disitu, firaun mengatakan....

Sesungguhnya (perbuatan) ini adalah suatu muslihat yang telah kalian rencanakan di dalam kota ini, untuk mengeluarkan penduduknya darinya. (Al-A'raf: 123)

Sesungguhnya kemenangan Musa atas kalian di hari kalian ini hanyalah sandiwara saja dan berdasarkan kerelaan kalian sendiri.

Nabi Musa mengetahui dan semua orang yang mempunyai pemikiran yang sehat mengetahui bahwa apa yang dikatakan oleh Fir'aun adalah suatu kebatilan yang parah, karena sesungguhnya Nabi Musa 'alaihissalam begitu datang dari Madyan langsung menyeru Fir'aun untuk menyembah Allah.

Lalu Musa menampakkan beberapa mukjizat yang jelas dan hujah-hujah yang mematahkan untuk membuktikan kebenaran dari apa yang disampaikannya. Tetapi saat itulah Fir'aun mengirimkan beberapa utusannya ke pelbagai kota yang berada di bawah kekuasaannya untuk mengundang semua ahli sihir.

Kemudian Fir'aun mengumpulkan semua ahli sihir dari berbagai negeri yang tunduk pada kekuasaannya di Mesir, mereka adalah ahli sihir pilihan hasil seleksi para pemimpin dari kaum Fir'aun.

Lalu semuanya dihadapkan kepada Fir'aun, dan Fir'aun menjanjikan akan memberikan harta yang berlimpah kepada mereka. Karena itulah para ahli sihir terdorong untuk memenangkan pertandingan tersebut di hadapan Raja Fir'aun.

Nabi Musa 'alaihissalam sama sekali tidak mengenal seorang pun dari mereka, tidak pernah pula melihatnya, dan sama sekali tidak pernah bersua dengan mereka.

Fir'aun sendiri mengetahui hal tersebut. Maka sesungguhnya apa yang dikatakan oleh Fir'aun setelah semua jagonya kalah hanyalah semata-mata menutupi kekalahannya di mata rakyatnya dan orang-orang yang tidak mengerti dari kalangan kaumnya. (Tafsir Ibnu Katsir Surah Al A'raf 123)

Fir'aun secara de facto kalah dalam event terbuka yang disaksikan rakyatnya sendiri.

Namun kesombongan dan kekufurannya telah membutakan mata hatinya.

Pasca kekalahan dalam event terbuka tersebut, sikap Fir'aun tidak berubah, bahkan semakin memusuhi Nabi Musa dan Bani Israil.

Fir'aun mendengarkan hasutan para pembesar pembesar nya untuk menyiksa Musa dan bertindak semakin brutal. (Qashashul Anbiya : 521)

Alloh turunkan bencana dan hukuman pada Fir'aun dan para pendukungnya berupa kekeringan, packlik, topan, serangan belalang, katak hingga darah (minuman berubah menjadi darah).

Namun Fir'aun tetap dalam kekafirannya dan justru membuat fitnah baru, yakni

{يَطَّيَّرُوا بِمُوسَى وَمَنْ مَعَهُ}

mereka lemparkan sebab kesialan itu kepada Musa dan orang-orang yang bersamanya. (Al-A'raf: 131)

Maksudnya, hal tersebut terjadi karena ulah Musa dan para pengikutnya serta apa yang dibawa oleh mereka. (Tafsir Ibnu Katsir Surah Al A'raf 131)

Rupanya sudah menjadi tabiat penguasa dholim ini, kekalahan tidak membuatnya mau menyadari. Bencana juga tidak membuatnya mau bertobat. Bahkan dengan ringan membuat fitnah dan memutarbalikkan fakta.

Para pembesar di negeri itu berkata kepada Fir'aun.

{أَتَذَرُ مُوسَى وَقَوْمَهُ}

Apakah kamu membiarkan Musa dan kaumnya. (Al-A'raf: 127)

Artinya, apakah engkau biarkan mereka menimbulkan kerusakan di bumi, yakni merusak rakyatmu dan menyeru mereka untuk menyembah Tuhan mereka, bukan menyembah kepadamu? Alangkah meng­herankannya, mengapa mereka merasa khawatir Musa dan kaumnya akan menimbulkan kerusakan.

Bukankah sebenarnya Fir'aun dan kaumnyalah orang-orang yang membuat kerusakan itu, tetapi Fir'aun dan kaumnya tidak merasa, bahwa diri mereka sebenarnya adalah para perusak?
(Tafsir Ibnu Katsir Surah Al A'raf 127)

Demikianlah hoax dan pemutarbalikan fakta yang dilakukan Fir'aun dan para pendukungnya.

Mereka terlalu kuat, dan Nabi Musa beserta kaumnya adalah kelompok yang lemah.

Puncak dari semua kondisi ini adalah eskalasi penindasan semakin meningkat, Nabi Musa dan kaumnya memutuskan _"turun ke jalan"_, melarikan diri, meninggalkan Mesir.

Rupanya keputusan ini membuat Fir'aun semakin kalap, dia kerahkan 1.600.000 tentara untuk memburu Nabi Musa dan kaumnya.

Pertarungan dalam _*event resmi*_tidak membuat Fir'aun beriman dan mengakui , maka jalanan menjadi takdir yang mengubah jalan cerita Nabi Musa.

Hingga dipuncak ketidakberdayaannya di jalan "buntu" itu, Alloh turunkan Mu'jizat yang tidak pernah disangka siapapun.

Laut terbelah, dan Firaun musnah

Cerita Nabi Musa penuh dengan hikmah yang menyuburkan jiwa.

Namun mendebarkan dan mencekam jika harus terulang dan menjadi nyata.

_Hasbunallohu wa ni'mal wakil_

_Nashrun minalloh wa fat-hun qariib_
Bakti Kepada Orang Tua

Bakti Kepada Orang Tua

Seorang lelaki mendatangi Rasulullah SAW mengadukan bahwa ayahnya telah mencuri hartanya. Rasulullah kemudian bertanya kepadanya, ''Pergilah dan datanglah kemari bersama ayahmu.''

Ketika lelaki tadi pergi, Malaikat Jibril datang menemui Rasulullah dan bersabda, ''Wahai Muhammad, Tuhanmu mengucapkan salam kepadamu dan berfirman, 'Jika orang tua anak tersebut tiba, maka tanyakanlah apa yang telah dia ucapkan dalam hatinya yang tidak terdengar oleh kedua telinganya'.'' Setelah berkata demikian, Malaikat Jibril pergi. Tidak lama kemudian, lelaki tadi datang bersama ayahnya. Nabi SAW kemudian bertanya kepada ayah lelaki tadi, katanya, ''Mengapa anakmu mengadu bahwa engkau mencuri hartanya?''

''Ya Rasulullah, tanyakanlah kepadanya, harta itu aku dermakan kepada siapa; kepada salah seorang bibinya atau untuk diriku sendiri?'' jawab ayah lelaki tadi. ''Perkenankanlah aku untuk tidak membahas hal ini, tetapi ceritakanlah kepadaku apa yang kau ucapkan dalam hatimu yang tidak didengar oleh kedua telingamu?'' tanya Rasulullah sebagaimana yang diajarkan Malaikat Jibril sebelumnya.

''Demi Allah wahai Rasulullah, Allah selalu membuat kami semakin yakin kepadamu. Aku memang telah mengucapkan sesuatu dalam hatiku yang tidak didengar oleh kedua telingaku,'' jawabnya.

''Sampaikanlah, aku akan mendengarkannya,'' jawab Nabi SAW.

Tidak diduga, ternyata ayah lelaki tadi kemudian membacakan sebuah syair yang bagus yang ditujukan kepada sang anak buah hatinya:

Ketika engkau lahir, aku memberimu makan
Dan ketika engkau tumbuh dewasa, aku selalu menjagamu
Engkau diberi minum dari jerih payahku
Jika malam hari engkau sakit
Maka, sepanjang malam aku tidak tidur
Bergadang memikirkan penyakitmu
hingga tubuhku sempoyongan karena kantuk
Seakan-akan aku yang sakit, bukan kau
Air mataku pun mengalir deras
Dan jiwaku khawatir kau akan mati
Padahal Dia tahu bahwa ajal akan tiba sesuai waktunya
Saat engkau mencapai usia yang tepat
Saat di mana kuharapkan dirimu
Kau balas diriku dengan kekejaman dan kekasaran
Seakan-akan engkau pemberi nikmat
Dan yang dermawan
Andai saja ketika tak dapat kaupenuhi hakku sebagai ayah
Kau perlakukan aku sebagai tetangga
Yang hidup berdampingan

Mendengar syair yang dibacakan ayah lelaki tadi, tidak terasa Rasulullah pun meneteskan air mata dan berkata kepada anak tersebut, ''Dirimu dan hartamu adalah milik ayahmu.''

Laki-laki itu pun tertunduk lesu dan merasa malu. Ia kini menyadari betapa besar curahan kasih sayang orang tuanya kepada dirinya. Karena kesadarannya telah terbuka, maka hartanya itu diikhlaskan kepada ayahnya. Dan, lelaki beserta orang tuanya pun akhirnya minta izin pergi meninggalkan Nabi SAW dengan perasaan damai.
Reuni 212, Apa Yang Menggerakkan Mereka?

Reuni 212, Apa Yang Menggerakkan Mereka?

Sangat jarang saya menangis,tapi Jumat, 2 Desember 2016 silam, beberapa kali saya tak bisa membendung desakan air mata yang keluar dari kedua bola mata ini. Rasa haru terus menyelimuti sepanjang aksi.

Diawali saat baru tiba di lokasi. Usai mobil diparkir dekat Tugu Tani, saya langsung disambut oleh ibu-ibu yang memberikan makanan.

“Pak ini diambil snacknya buat sarapan,” kata seorang ibu berjilbab sambil membawa kardus berisi makanan.

Air mata menetes. Di pagi hari mereka bersusah payah hanya untuk membagikan penganan sarapan. Gerangan apa yang menggerakkan mereka?


Saat berjalan perlahan menuju Monas, saya melihat anak-anak usia SMP dengan kepala berbalut tuliskan mujahid melangkah dengan semangat diiringi pekik takbir. Tubuh mereka mungil tapi ayunan kaki dan teriakan mereka jauh melebihi ukuran badannya. Air mata ini kembali menetes. Gerangan apa yang menggerakkan mereka?

Ada pula bapak-bapak yang rambutnya telah memutih. Mereka tampak kuat dan berjalan mantap menuju Monas. Kepala mereka pun diikat dengan kain bertuliskan Aksi Bela Islam 3. Lagi-lagi air mata menetes haru. Gerangan apa yang menggerakkan mereka?

Di depan Balaikota DKI Jakarta, saya ditawari salak pondoh oleh dua orang lelaki yang datang dari Temanggung, Jawa Tengah.

“Ayo Pak diambil salaknya,” ujar seorang lelaki.

Sekali lagi saya tak mampu membendung air mata ini. Gerangan apa yang menggerakkan mereka?

Lalu tepat di samping pintu masuk Lapangan Monas, ada tawaran layanan charger HP gratis.

“Siapa yang HP nya lowbatt, silakan mencharger disini…..gratis,” teriak seorang lelaki muda.

Ya Allah, disaat mereka sebenarnya bisa meraup keuntungan dengan jasa yang mereka tawarkan, tapi mereka justru tak ingin dibayar. Air mata ini menetes. Gerangan apa yang menggerakkan mereka?

Episode tangis haru saya mencapai puncaknya saat Sholat Jumat. Hujan yang mengguyur tak mampu membuat jutaan umat yang hadir bubar. Mereka tetap khusyuk sambil menahan dingin yang menusuk tulang.

Ya Robb, apa sesungguhnya yang menggerakkan ini semua?

Saya lalu teringat dengan kisah Perang Badar. Kala itu, malam terus merambat. Rasa lelah mendera pasukan Muslim. Rasa kantuk yang hebat datang menyerang. Hujan yang turun di gelapnya malam membuat pasukan tak kuasa menahan kantuk. Mereka tertidur ditemani perlengkapan perang yang menempel di tubuhnya.

Abu Thalhah sebagaimana diriwayatkan Ahmad berkisah.

“Rasa kantuk menyerang kami sementara kami masih berada dalam barisan pada waktu Perang Badar. Aku termasuk salah satu yang terkantuk. Tidak terasa pedangku terjatuh dari genggamanku, lalu aku memungutnya. Terjatuh lagi dan aku memungutnya. Setelah itu aku berdiri dengan perasaan malu. Aku tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi pada malam itu.”

Kemudian turunlah firman Allah swt:

“(Ingatlah), ketika Allah menjadikan engkau mengantuk sebagai suatu penentraman dariNya dan Allah menurunkan kepadamu hujan dari langit untuk mensucikan kamu dengan hujan itu dan menghilangkan dari kamu gangguan-gangguan setan dan untuk menguatkan hatimu dan memperteguh dengannya telapak kakimu (QS. Al Anfal:11)

Malam itu Allah swt menurunkan hujan sangat deras sehingga menghalangi pasukan musyrik untuk menyerang. Anehnya, kaum Muslim merasakan hujan itu seperti gerimis yang sangat mensucikan mereka: hujan yang melenyapkan gangguan setan, mengukuhkan tempat berpijak, memadatkan tanah, menegakkan kaki yang berdiri dan menyatukan hati (Zaadul Ma’ad)


Bisa jadi banyak yang nyinyir dan menganggap sangat lebay menyamakan kisah hujan di Monas dengan di Badar. Bahkan, jika tak turun hujan pun, masih banyak orang yang menghina kita karena ikut aksi.

Tapi begitulah cara Allah membedakan yang haq dan bathil. Penistaan agama oleh Ahok membuka kedok siapa yang sesungguhnya berada dalam barisan Islam dan musuh kaum muslimin. Bukankah Perang Badar juga disebut Yaumul Furqan? Hari Pembeda antara kebenaran dan Kebathilan?

Disanalah Umar bin Khaththab membunuh pamannya Al Ash bin Hisyam. Abu Bakar berhadapan dengan anaknya Abdurrahman. Lalu paman Nabi saw Abbas bin Abdul Muthalib ditahan pasukan muslimin. Saat itu, hubungan kekerabatan putus. Yang tersisa hanyalah kalimat iman mengalahkan kalimat kufur.

Sepertinya, inilah cara Allah yang hendak menjadikan kita sebagai pasukan Badar di akhir zaman ini yang dipimpin oleh ulama-ulama panutan umat: Ust Bachtiar Nasir, Habib Riziq Shihab, Ust Arifin Ilham hingga Aa Gym.

Bukankah almarhum KH Hasyim Muzadi di akhir hayatnya pun menyebut peristiwa 212 layaknya Badar?

Wallahua’lam bishshowab

Erwyn Kurniawan

Presiden Reli

sumber : ngelmu
Berbeda Bukan Berarti Salah

Berbeda Bukan Berarti Salah

Berbeda Bukan Berarti Salah

Banyak jalan yang coba ditapaki para pendahulu kita untuk menyebarkan risalah islam. Buah dari usaha itu adalah munculnya berbagai gerakan dakwah dengan ciri dan tipikal khas masing2. Badiuzzaman Said Nursi dengan ciri khas bahasa dakwahnya yang lembut dan tinggi, menaklukkan hati, mengajak untuk terus berfikir dan berzikir.

Lihat pula Risalah dakwahnya syaikh syahid Hasan al Banna, kombinasi antara tazkiyah diri dan jihad siyasi. Menyadarkan betapa pentingnya politik dan kekuasaan, dengan tidak lupa terhadap kewajiban untuk selalu bersih2 diri.
Perhatikan juga ijtihad dakwah ismail al farouqi, "Islamization Of Knowledge" adalah usaha dakwah yang coba dibawanya untuk mengisi pos2 pembelajaran diruang akademik yang belakangan di dominasi liberalis. Semuanya bekerja dengan bahasa dan cara yang berbeda, tapi ghayah tetap sama, untuk Islam.
----------------------------
Jangan panik ketika ada yang berbeda manhaj dengan kita dalam dakwahnya, yang berbahaya itu adalah kalau hanya karna berbeda dalam perkara manhaj/cara/metode/ijtihad dakwah, lantas hal tersebut menjadikan kita buta, tak tahu mana kawan mana lawan. Kita telan semua yang tidak sebendera sewarna.

Meyakini bahwa jalan dakwah kita benar adalah penting, sebab kalau kita tidak yakin kenapa harus ditapaki?

Tapi berkeyakinan bahwa kitalah satu satunya pemilik kebenaran dan pemegang tunggal "ijazah" untuk berdakwah adalah kesalahan fatal. Pemahaman seperti ini akan memantik api permusuhan yang sulit untuk dipadamkan.

Islam adalah islam, banyak jalan menyampaikannya. Golongan apapun itu, selama didasari pemahaman islam yang benar, maka ia adalah bahagian dari islam. Jangan pahami bahwa golongan kita adalah islam dan islam adalah golongan kita, Engkau akan kafirkan orang yang tak sepaham denganmu, engkau akan bid'ah kan orang yang berlainan cara denganmu, kau akan sesatkan, salahkan, dan hukum sesiapapun yang engkau rasa tak sesuai denganmu. Sebab engkau berkeyakinan bahwa islam adalah golonganmu saja dan selain darinya adalah bukan. Juga kau meyakini bahwa pertolongan Allah hanya untuk golonganmu, kau lihat mereka yang tak berada dalam shafmu sebagai manusia yang kurang berislam, kau yakini bahwa Allah bersama jamaah dan jamaah itu adalah golonganmu saja, kau lupa ada jutaan muslim yang mungkin punya cara berbeda dengan caramu. Ada ratusan ulama dan pemikir islam yang berjalan berbeda dengan jalanmu.

Ada baiknya kita kaji lagi bahasan2 tentang fiqh ikhtilaf. Buka lagi buku2 fiqh perbandingan. Agar kita semakin mantap memahami bahwa yang berbeda dengan kita bukan berarti salah, dan kebenaran tak bisa di klaim hanya untuk kita saja. Pun juga agar bisa lebih menghargai hak2 mereka yang berbeda dengan kita.

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم من صلى صلاتنا واستقبل قبلتنا وأكل ذبيحتنا فذلك المسلم الذي له ذمة الله وذمة رسوله فلا تخفروا الله في ذمته.

Rasul Allah berkata, "Siapa pun yang shalat seperti shalat kita, menghadap kiblat seperti kiblat kita, dan makan hewan kita yang kita sembelih, adalah seorang Muslim. Mereka berada di bawah perlindungan Allah dan Rasul-Nya.

Jangan khianati Allah dengan mengkhianati mereka yang berada dalam perlindungan-Nya.

ولا تخونوه بانتهاك حقوقه
Jangan mengkhianatinya adalah jangan melanggar hak mereka. Caci maki, sumpah serapah, fitnah, ghibah adalah bagian dari pelanggaran hak terhadap saudara muslim kita. Kasihi dan hormati teman muslim kita, perlakukan mereka sebagaimana kita ingin diperlakukan.

Ayo hargai manusia, ayo baik bareng.

Ahmad Syauqi, Lc
Salah Mengambil Pelajaran

Salah Mengambil Pelajaran

Kaum sufi meriwayatkan bahwa Syaqiq al-Balkhi, seorang saleh, pergi dalam perjalanan bisnis dan mencari karunia Allah. Sebelum keberangkatannya, ia berpamitan kepada temannya, Ibrahim bin Adham, seorang zahid yang terkenal.

Ibrahim bin Adham memperkirakan ia akan melakukan perjalanan dalam waktu lama, tetapi beberapa hari kemudian Syaqiq al-Balkhi kembali lagi dan terlihat di masjid, lalu Ibrahim bin Adham bertanya kepadanya dengan penuh keheranan: Apa yang menyebabkan kamu cepat kembali?

Syaqiq al-Balkhi: Saya melihat seekor burung yang sangat mengagumkan di tengah perjalananku lalu saya membatalkan perjalanan.

Ibrahim bin Adham: Baik, apa yang kamu lihat?

Syaqiq al-Balkhi: Saya singgah di tempat yang sepi untuk beristirahat di dalamnya, lalu saya mendapati seekor burung yang cacat dan buta. Saya merasa heran lalu saya berkata di dalam hati: Bagaimana burung ini bisa hidup di tempat yang terpencil ini, padahal burung ini tidak bisa melihat dan tidak bisa bergerak? Tidak lama kemudian datang burung lain yang membawa makanan untuknya, dalam sehari beberapa kali, hingga tercukupi kebutuhannya. Lalu saya berkata: Sesungguhnya Dzat yang memberi rezki kepada burung ini di tempat ini pasti berkuasa memberiku rezeki, lalu saat itu pula saya kembali.

Ibrahim bin Adham: Sungguh aneh kamu ini wahai Syaqiq! Kenapa kamu mau menjadi burung yang buta dan cacat, yang hidup mengharapkan dan menggantungkan bantuan orang lain, tetapi tidak mau menjadi burung lain yang berusaha mencukupi dirinya sendiri dan membantu orang lain yang memerlukan bantuan? Tidakkah kamu tahu bahwa tangan yang di atas lebih baik dari tangan yang di bawah?

Kemudian Syaqiq al-Balkhi berdiri dan mencium tangan Ibrahim bin Adham seraya berkata: Kamu adalah guru kami wahai Abu Ishaq! Akhirnya Syaqiq al-Balkhi kembali menekuni usaha dan perniagaannya lagi.

Ya, sebagian pemalas berdalil dengan hadis Nabi saw: “Sekiranya kamu bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benar tawakal pasti Allah memberimu rezki sebagaimana Dia memberi rezki kepada burung; ia berangkat pagi dalam keadaan kosong dan kembali dalam keadaan kenyang”. (Sunan at-Tirmidzi 2344).

Hadis ini membantah mereka, karena Allah tidak menjamin perut burung itu kenyang kecuali setelah berangkat sejak pagi. Arti berangkat pagi (taghdu) adalah keluar untuk mencari rezki. Jadi, hadis ini mengingatkan agar berusaha dan melakukan berbagai upaya, agar tidak hanya mengharap bantuan orang lain yang membuat dirinya tidak mandiri dan merdeka dalam bersikap dan berpendapat.

Lihat: Musykilat al-Faqr , kaifa ‘alajaha al-Islam, Dr. Yusuf al-Qaradhawi.

Diterjemahkan dari “Zad al-Murabbin”, Ibrahim Badr Syihab al-Khalidi. Oleh Aunur Rafiq Saleh Tamhid.

sumber : ngelmu.co
Kabar Gembira di Balik Sakit

Kabar Gembira di Balik Sakit

Kita semua pasti tidak pernah luput dari cobaan baik itu dengan keburukan dan kebaikan.
Alloh telah berfirman;

كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ ۗ وَنَبْلُوكُمْ بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً ۖ وَإِلَيْنَا تُرْجَعُونَ
artinya :
tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan. (al anbiya 35)

1. Sakit menjadi kebaikan bagi seorang muslim jika dia mampu bersabar
nilai dari sabar itu sendiri pun sangat mulia di sisi Alloh subhanahu wata'ala. termasuk sabar dalam menghadapi sakit yg kita derita.
rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda:
عَجَبًا ِلأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ لَهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَلِكَ ِلأَحَدٍ إِلاَّ لِلْمُؤْمِنِ، إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ، وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْراً لَهُ
artinya :
sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin, semua urusannya adalah baik baginya. Hal ini tidak didapatkan kecuali pada diri seorang mukmin. apabila mendapatkan kesenangan, dia bersyukur, maka yang demikian itu merupakan kebaikan baginya. sebaliknya apabila tertimpa kesusahan, dia pun bersabar, maka yang demikian itu merupakan kebaikan baginya. (HR muslim)


memang tidak mudah untuk bersabar ketika sakit tak kunjung sembuh. manusiawi jika kita punya keinginan untuk sembuh dan kecewa ketika berbagai pengobatan tidak juga ampuh.

tapi kita harus ingat mau kita bersabar atau tidak bersabar, hasilnya sama...
kita bisa saja memilih untuk tidak bersabar tapi kita akan melewatkan pahala besar...
saya pernah dengar ceramah ustadz oemar mita, Alloh tidak menjelaskan secara jelas ganjaran untuk orang yg mampu bersabar. karena saking besarnya....saking awesomenya ganjaran untuk orang yg mampu bersabar.

2. Sakit akan menghapuskan dosa
dengan sakitnya seorang mukmin yg tetap taat dan sabar, maka Alloh akan menghapuskan dosanya. rosululloh shollallohu 'alaihi wa sallam bersabda :

عَنْ أَبِى سَعِيدٍ الْخُدْرِىِّ وَعَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ عَنِ النَّبِىِّ - صلى الله عليه وسلم - قَالَ  مَا يُصِيبُ الْمُسْلِمَ مِنْ نَصَبٍ وَلاَ وَصَبٍ وَلاَ هَمٍّ وَلاَ حُزْنٍ وَلاَ أَذًى وَلاَ غَمٍّ حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا ، إِلاَّ كَفَّرَ اللَّهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ
artinya :
tidaklah seorang muslim ditimpa keletihan, penyakit yang berkepanjangan, kesusahan, kesedihan, gangguan, kegundah-gulanan hingga duri yang menusuknya, melainkan Alloh akan menghapuskan dosa-dosanya dengan sebab-sebab tersebut. (HR bukhori)

3. Sakit akan membawa keselamatan dari api neraka
ada lagai hikmah yg lain yaitu dijauhkannya si sakit dari api neraka. Maka dari itu jangan sekali pun kita memaki keadaan dimana penyakit tak kunjung sembuh meski sudah ikhtiar kemana2.. tidak mengapa karena ada kabar gembira..
rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya : janganlah kamu mencaci maki penyakit demam, karena sesungguhnya (dengan penyakit itu) Alloh akan mengahapuskan dosa-dosa anak adam sebagaimana tungku api menghilangkan kotoran-kotoran besi. (HR. muslim)

4. Sakit akan mengingatkan kita dari kelalaian kita
normal kok kalau ketika sakit, kita langsung ingat dengan dosa2 masa lalu... tidak usah malu dan menutup diri dari perasaan seperti ini ketika sakit.
karena itu pertanda bagus,,,, bahwa Alloh sedang membuka hati kita..
sesuai dengan firman Alloh;

وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا إِلَىٰ أُمَمٍ مِنْ قَبْلِكَ فَأَخَذْنَاهُمْ بِالْبَأْسَاءِ وَالضَّرَّاءِ لَعَلَّهُمْ يَتَضَرَّعُونَ
artinya :
dan sesungguhnya Kami telah mengutus (rosul-rosul) kepada umat-umat yang sebelum kamu, kemudian Kami siksa mereka dengan (menimpakan) kesengsaraan dan kemelaratan, supaya mereka memohon (kepada Alloh) dengan tunduk merendahkan diri. (qs al anam 42)

kita harus tetap ingat bahwa setiap cobaan yg Alloh berikan adalah wujud cintaNya agar kita kembali mengingatnya dan kembali mendekat kepadaNya..
melembutkan hati kita sehingga kita mampu untuk bersabar menghadapinya (jgn lupa sambil ihtiar ya..)

sebagai penutup,,, kita patut bergembira, karena bisa jadi dengan penyakit ini kita akan bersih dari dosa bahkan tidak mempunyai dosa sama sekali.
Bisa jadi dengan Sakit, Allah Subhanahu Wataala sedang memberi kita peluang untuk mendapat pahala, yang mana sakit itu juga bisa sebagai pengganti amalan amalan sunnah yg jarang kita kerjakan. tentunya kita harus bersabar dalam menghadapi sakit tersebut.

sesuai sabda nabi berikut ini,

مَا يَزَالُ الْبَلاَءُ بِالْمُؤْمِنِ وَالْمُؤْمِنَةِ فِي جَسَدِهِ وَمَالِهِ وَوَلَدِهِ

حَتَّى يَلْقَى اللهَ وَمَا عَلَيْهِ خَطِيْئَةٌ

artinya : cobaan akan selalu menimpa seorang mukmin dan mukminah, baik pada dirinya, pada anaknya maupun pada hartanya, sehingga ia bertemu dengan Alloh tanpa dosa sedikitpun. (HR at tirmidzi)

semoga kita selalu dilindungi oleh Alloh dimana pun kita berada dan apapun keadaan kita. aamiin ya robbal alamiin.
Mati Layaknya Keledai

Mati Layaknya Keledai

Kisah ini terjadi di Universitas 'Ain Syams, fakultas pertanian di Mesir. Sebuah kisah yang amat masyhur dan dieksposs oleh berbagai media massa setempat dan sudah menjadi buah bibir orang-orang di sana.

Pada tahun 50-an masehi, di sebuah halaman salah satu fakultas di negara Arab (Mesir-red.,), berdiri seorang mahasiswa sembari memegang jamnya dan membelalakkan mata ke arahnya, lalu berteriak lantang, "Jika memang Allah ada, maka silahkan Dia mencabut nyawa saya satu jam dari sekarang!."

Ini merupakan kejadian yang langka dan disaksikan oleh mayoritas mahasiswa dan dosen di kampus tersebut. Menit demi menitpun berjalan dengan cepat hingga tibalah menit keenampuluh alias satu jam dari ucapan sang mahasiswa tersebut. Mengetahui belum ada gejala apa-apa dari ucapannya, sang mahasiswa ini berkacak pinggang, penuh dengan kesombongan dan tantangan sembari berkata kepada rekan-rekannya, "Bagaimana pendapat kalian, bukankah jika memang Allah ada, sudah pasti Dia mencabut nyawa saya?."

Para mahasiswapun pulang ke rumah masing-masing. Diantara mereka ada yang tergoda bisikan syaithan sehingga beranggapan, "Sesunguhnya Allah hanya menundanya karena hikmah-Nya di balik itu." Akan tetapi ada pula diantara mereka yang menggeleng-gelengkan kepala dan mengejeknya.

 
Sementara si mahasiswa yang lancang tadi, pulang ke rumahnya dengan penuh keceriaan, berjalan dengan angkuh seakan dia telah membuktikan dengan dalil 'aqly yang belum pernah dilakukan oleh siapapun sebelumnya bahwa Allah benar tidak ada dan bahwa manusia diciptakan secara serampangan; tidak mengenal Rabb, tidak ada hari kebangkitan dan hari Hisab. Dia masuk rumah dan rupanya sang ibu sudah menyiapkan makan siang untuknya sedangkan sang ayah sudah menunggu sembari duduk di hadapan hidangan. Karenanya, sang anak ini bergegas sebentar ke 'Wastapel' di dapur. Dia berdiri di situ sembari mencuci muka dan tangannya, kemudian mengelapnya dengan tissue. Tatkala sedang dalam kondisi demikian, tiba-tiba dia terjatuh dan tersungkur di situ, lalu tidak bergerak-gerak lagi untuk selama-lamanya.

Yah…dia benar-benar sudah tidak bernyawa lagi. Ternyata, dari hasil pemeriksaan dokter diketahui bahwa sebab kematiannya hanyalah karena ada air yang masuk ke telinganya!!.

Mengenai hal ini, Dr.'Abdur Razzaq Nawfal -rahimahullah- berkata, "Allah hanya menghendaki dia mati seperti keledai!."

Sebagaimana diketahui berdasarkan penelitian ilmiah bahwa bila air masuk ke telinga keledai atau kuda, maka seketika ia akan mati?!!!.

(Sumber: Majalah "al-Majallah", volume bulan Shafar 1423 H sebagai yang dinukil oleh Ibrahim bin 'Abdullah al-Hâzimiy dalam bukunya "Nihâyah azh-Zhâlimîn", Seri ke-9, h.73-74)

Jiwa Pemaaf Rosulullah Kepada Sahabat Yang Berjasa

Jiwa Pemaaf Rosulullah Kepada Sahabat Yang Berjasa

Ketika Rasulullah  bersama kaum Muslimin bersiap sedia menjelang “Fathu Mekah”. Hatib bin Abi Balta’ah telah menulis surat kepada penduduk Mekah untuk memberitahu mereka tentang hal itu. 
Dia menyatakan kepada mereka :
“Sesungguhnya Muhammad ingin memerangi kamu, maka hati-hatilah kamu sekalian”.
Surat itu dikirim melalui seorang wanita yang sedang dalam perjalanan ke Mekah bernama Zha’inah.

Lalu Allah  menurunkan wahyu kepada Rasulullah  menerangkan hal pembocoran rahasia tersebut.
Rasululullah  segera memanggil Ali, Zubair dan Miqdad dengan sabdanya :
“Segera kamu sekalian berangkat ke sebuah tempat Raudhah Khak, kerana di sana ada Zha’inah (wanita musafir) yang membawa surat, maka ambillah darinya kemudian bawa surat itu ke mari”.

lafal Muhammad SAW-oaseiman

Selepas itu kami segera pergi, sehingga ketika sampai ke Raudhah kami pun memjumpai wanita tersebut.
Kami berkata kepadanya :
“Keluarkanlah surat itu”.
Ia menjawab :
“Surat apa, saya tak bawa apa-apa surat pun”.
Kami berkata :
“Betul kamu tidak membawa apa-apa surat! kamu mau berikan surat itu atau kami tanggalkan pakaianmu”.
Akhirnya dalam ketakutan, dia pun mengeluarkan surat itu dari sanggulnya.
Kami pun terus mengambil surat tersebut dan segera pulang ke Madinah dan menyerah surat itu kepada Rasulullah.

Tenyata surat itu berbunyi :
‘Dari Hatib bin Abi Balta’ah, ditujukan kepada sekelompok manusia dari orang-orang musyrik di Mekah…dan seterusnya’. Antara isi kandungannya memberitahu mereka tentang sebahagian dari rahsia Nabi Lalu Rasulullah S.A.W memanggil Hatib dan berkata :
“Wahai Hatib! apa yang telah kamu lakukan ni?”
Hatib menjawab :
“Wahai Rasulullah!
Janganlah Engkau tergesa-gesa menuduhku.
Sesungguhnya aku seorang yang sangat rapat hubungan dengan Quraisy, dan bukankah aku termasuk orang yang terbaik di antara mereka, dan di antara orang yang bersamamu dari orang-orang Muhajirin, mereka mempunyai kaum kerabat dan mereka ingin menjaga keluarga dan harta mereka.
Maka aku adalah seorang yang ingin memelihara kerabatku.
Aku tidak melakukan hal ini kerana kafir atau murtad dari agama Islam.”

Lalu Umar bin al Khatab mencelah dengan berkata :
 Wahai Rasulullah!
“Izinkan aku memenggal leher si munafik ini”.
Rasulullah menjawab dengan sabdanya :
“Wahai Umar, sesungguhnya dia terlibat dengan peperangan Badar.
Apa yang kamu ketahui hai Umar?
Mudah-mudahan Allah mengetahui ahli Badar.”
Lalu Rasulullah  bersabda :
“Wahai ahli Badar! Buatlah apa yang kamu suka, sesungguhnya aku telah memaafkan kalian.”

Maka turunlah firman Allah  yang bermaksud :
“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil musuh Ku dan musuh mu menjadi teman setia yang kamu sampaikan kepada mereka (berita Muhammad) kerana alasan rasa kasih sayang, pada hal sesungguhnya mereka telah ingkar kepada kebenaran yang datang kepadamu. Mereka mengusir Rasul dan kamu kerana beriman kepada Allah, Rabbmu, jika kamu benar-benar keluar berjihad di jalan-Ku dan mencari keredhaan-Ku (janganlah kamu berbuat demikian) kamu memberitahu secara rahsia berita Muhammad kepada mereka, kerana kasih sayang.
Aku lebih mengetahui apa yang kamu sembunyikan dan yang kamu nyatakan, dan barang siapa di antara kamu yang melakukannya maka sesungguhnya dia telah tersesat dari jalan yang lurus”.
(Al Mumtahanah : ayat ke-1)

Sesungguhnya banyak pengajaran yang kita pelajari dari peristiwa ini.
Ia memberi penjelasan kepada kita bagaimana tarbiyah Rasulullah melalui berbagai peristiwa yang berlaku. Rasulullah adalah seorang pemimpin dan murabbi yang agung.

Kita dan umat mungkin merasa terkejut dengan tindakan Hatib, pada hal dia seorang sahabat generasi pertama dan ahli Badar.
Itulah hakikat jiwa manusia, kadang-kadang mengalami saat-saat lemah atau futur.
Sekali pun telah mencapai kekuatan iman, kemungkinan keliru dan lalai tetap saja ada.
Hanya Allah saja yang tidak yang tidak pernah salah, dan hanya Allah yang Memberi pertolongan.

IBRAH :1. Setiap manusia tidak lepas dari khilaf, termasuk para sahabat
2. Rasulullah dalam memberi hukuman tidak saja melihat tingkat kesalahannya, tapi melihat jasa jasa nya dalam perjuangan
3. Rasulullah memiliki jiwa pemaaf kepada sahabat sahabatnya, terutama Ahlu Badr

Dongeng Sholat

Dongeng Sholat

Ada seorang manusia yang bertemu dengan setan di waktu subuh. Entah bagaimana awalnya, akhirnya mereka berdua sepakat mengikat tali persahabatan. Ketika waktu subuh berakhir dan orang itu tidak mengerjakan shalat, maka setan pun sambil tersenyum bergumam, "Orang ini memang boleh menjadi sahabatku..!"

Begitu juga ketika waktu Zuhur orang ini tidak mengerjakan shalat, setan tersenyum lebar sambil membatin, "Rupanya inilah bakal teman sejatiku di akhirat nanti..!"



Ketika waktu ashar hampir habis tetapi temannya itu dilihatnya masih juga asik dengan kegiatannya, setan mulai terdiam......

Kemudian ketika datang waktunya maghrib,temannya itu ternyata tidak sholat juga, maka setan nampak mulai gelisah, senyumnya sudah berubah menjadi kecut. Dari wajahnya nampak bahwa ia seolah-olah sedang mengingat-ngingat sesuatu.

Dan akhirnya ketika dilihatnya sahabatnya itu tidak juga mengerjakan sholat Isya, maka setan itu sangat panik. Ia rupanya tidak bisa menahan diri lagi,dihampirinya sahabatnya yang manusia itu sambil berkata dengan penuh ketakutan, "Wahai sobat, aku terpaksa memutuskan persahabatan kita!"

Dengan keheranan manusia ini bertanya, "Kenapa engkau ingkar janji bukankah baru tadi pagi kita berjanji akan menjadi sahabat?".

"Aku takut!",jawab setan dengan suara gemetar.

"Nenek moyangku saja yang dulu hanya sekali membangkang pada perintah-Nya, yaitu ketika menolak disuruh "sujud" pada Adam, telah dilaknat-Nya; apalagi engkau yang hari ini saja kusaksikan telah lima kali membangkang untuk bersujud pada-Nya (Sujud pada Allah). Tidak terbayangkan olehku bagaimana besarnya murka Allah kepadamu !", kata setan sambil beredar pergi.

Menumbangkan Ego

Menumbangkan Ego

Suatu saat, Nabi Musa ditanya oleh kaumnya, tentang siapakah orang yang paling alim. Beliau menjawab bahwa beliau lah orang paling berilmu.


Tidak mengherankan sebenarnya jawaban ini, karena beliau adalah Ulul Azmi, beliau juga berbicara langsung dengan Alloh, beliau menerima Kitab Taurat. Jika kita lihat di Al Qur'an, Nama beliau disebut tidak kurang dari 300 kali.

Akan tetapi mungkin Alloh punya kehendak lain. Dan Nabi Musa ditegur oleh Alloh.

Rasulullah Saw. bersabda, "Sesungguhnya Musa berdiri berkhotbah di hadapan kaum Bani Israil, lalu ia bertanya kepada mereka, 'Siapakah orang yang paling alim (berilmu)?' (Tiada seorang pun dari mereka yang menjawab), dan Musa berkata, 'Akulah orang yang paling alim'." Maka Allah menegurnya karena ia tidak menisbatkan ilmu kepada Allah. Allah menurunkan wahyu kepadanya, "Sesungguhnya Aku mempunyai seorang hamba yang tinggal di tempat bertemunya dua lautan, dia lebih alim daripada kamu." Musa bertanya, "Wahai Tuhanku bagaimanakah caranya saya dapat bersua dengannya?" (Tafsir Ibnu Katsir Surah Al Kahfi 60-82)


Maka perjalanan itu dimulai.

Perjalanan melelahkan untuk menapaki ilmu baru.

Beliau bertemu dengan Nabi Khidir.

Perhatikan lah betapa tawadhu nya Nabi Musa dihadapan Nabi Khidir.
Nabi yang mulia ini mengatakan....

Allah SWT berfirman:

قَالَ لَهٗ مُوْسٰى هَلْ اَتَّبِعُكَ عَلٰٓى  اَنْ تُعَلِّمَنِ مِمَّا عُلِّمْتَ رُشْدًا
"Musa berkata kepadanya, Bolehkah aku mengikutimu agar engkau mengajarkan kepadaku (ilmu yang benar) yang telah diajarkan kepadamu (untuk menjadi) petunjuk?"
(QS. Al-Kahf 18: Ayat 66)

Nabi Khidir pun menjawab dengan ketawadhuan yang luar biasa..

Hai Musa, sesungguhnya aku mempunyai ilmu yang telah diajarkan oleh Allah kepadaku, sedangkan kamu tidak mengetahuinya; dan kamu mempunyai ilmu yang telah diajarkan oleh Allah kepadamu, sedangkan saya tidak mengetahuinya. (Tafsir Ibnu Katsir Surah Al Kahfi 60-82)

Sahabat....

Saat  tawadhu bertemu dengan tawadhu. Masing masing saling memuliakan bahkan saling merendah. Hingga Nabi Musa pun mengatakan dengan kesungguhan dan kejujurannya...

قَالَ سَتَجِدُنِيْۤ اِنْ شَآءَ اللّٰهُ صَابِرًا وَّلَاۤ اَعْصِيْ لَكَ اَمْرًا
"Dia (Musa) berkata, Insya Allah akan engkau dapati aku orang yang sabar, dan aku tidak akan menentangmu dalam urusan apa pun."
(QS. Al-Kahf 18: Ayat 69)

Perjalanan kisah beliau berdua berakhir dengan perpisahan....

Allah SWT berfirman:

قَالَ هٰذَا فِرَاقُ بَيْنِيْ وَبَيْنِكَ   ۚ  سَاُنَـبِّئُكَ بِتَأْوِيْلِ مَا لَمْ تَسْتَطِعْ عَّلَيْهِ صَبْرًا
"Dia berkata, Inilah perpisahan antara aku dengan engkau; aku akan memberikan penjelasan kepadamu atas perbuatan yang engkau tidak mampu sabar terhadapnya."
(QS. Al-Kahf 18: Ayat 78)

Mungkin kita menganggap bahwa Nabi Musa telah gagal dalam proses belajar bersama Nabi Khidir.

Benarkah???


Tentu ada hikmah dibalik perjalanan nabi Musa ini, meski proses belajar seolah kandas.

Sahabat.....

Perhatikan lah awal mula teguran Alloh kepada Nabi Musa.

Mungkin disitulah tujuan utama pengembaraan Nabi Musa dalam mencari Nabi Khidir.

- Mungkin beliau "gagal' bersabar.

- Mungkin beliau "gagal' menguasai ilmu hikmah yang diajarkan nabi Khidir..

Tetapi Nabi Musa telah mengajarkan hal sangat penting kepada kita.

Yakni  membuang ego, merendah, tawadhu thd ilmu, menyadari luasnya Ilmu Alloh, mengakui kelebihan orang lain dan pada saat yang sama menyadari sisi kelemahan diri.


Mungkin memang beliau "gagal" bersabar, tetapi beliau telah berhasil 'mengalahkan" ego diri sendiri, berjalan jauh untuk belajar pada seseorang.

_Terkadang mimpi tidak harus menjadi nyata, tetapi perjalan menuju mimpi adalah hikmah tarbiyah Alloh atas diri kita. Dan tarbiyah itu mungkin jauh lebih berharga dari apa yang telah kita mimpikan sepanjang waktu._

Bahkan terkadang, sebenarnya Alloh sedang mempersiapkan kita untuk hal hal lain yang jauh lebih besar.

Dan perjalanan menuju mimpi itulah bekalnya untuk menghadapi hal besar yang akan terjadi.

Jika bekal ini tidak kita miliki mungkin kita akan tumbang bersama waktu.

Nabi Musa kemudian menghadapi hal hal besar setelah kisah ini. Beliau harus berhadapan dengan ayah angkat nya sendiri yang sangat kejam. Beliau juga harus menghadapi para penyihir Fir'aun. Dan beliau harus menghadapi masa kritis dan genting hingga peristiwa besar terbelahnya lautan.

Semua peristiwa peristiwa besar ini harus beliau jalani, dan ternyata ketawadhuan, berani membuang ego, mengakui kekurangan diri, mengakui kelebihan orang lain adalah bekal yang sangat bermanfaat dalam perjalanan di kemudian hari.

Perintah dakwah pun turun,

 Allah SWT berfirman:

اِذْهَبْ اِلٰى فِرْعَوْنَ اِنَّهٗ  طَغٰى
"Pergilah kepada Fir'aun; dia benar-benar telah melampaui batas."
(QS. Ta-Ha 20: Ayat 24)


Lihatlah ketawadhuan itu pun muncul kembali, sesaat setelah titah itu datang...

قَالَ رَبِّ اشْرَحْ لِيْ صَدْرِيْ  
"Dia (Musa) berkata, Ya Tuhanku, lapangkanlah dadaku,"
(QS. Ta-Ha 20: Ayat 25)

Allah SWT berfirman:

وَيَسِّرْ لِيْۤ اَمْرِيْ  
"dan mudahkanlah untukku urusanku,"
(QS. Ta-Ha 20: Ayat 26)

وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِّنْ لِّسَانِیْ  
"dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku,"
(QS. Ta-Ha 20: Ayat 27)

يَفْقَهُوْا قَوْلِيْ
"agar mereka mengerti perkataanku,"
(QS. Ta-Ha 20: Ayat 28)

Beliau menyadari sisi lemah dalam diri dan mau mengakui kelebihan saudaranya. Tidak hanya itu, beliau dengan kesungguhan ingin berdakwah bersama saudaranya.

Allah SWT berfirman:

وَاَخِيْ هٰرُوْنُ هُوَ اَفْصَحُ مِنِّيْ لِسَانًا فَاَرْسِلْهُ مَعِيَ رِدْاً  يُّصَدِّقُنِيْٓ ۖ  اِنِّيْۤ اَخَافُ اَنْ يُّكَذِّبُوْنِ
"Dan saudaraku Harun, dia lebih fasih lidahnya daripada aku, maka utuslah dia bersamaku sebagai pembantuku untuk membenarkan (perkataan)ku; sungguh, aku takut mereka akan mendustakanku."
(QS. Al-Qasas 28: Ayat 34)

Sahabat sekalian....

_Terkadang terlalu banyak benturan hadir dalam hidup, kadang terlalu banyak duri yang terinjak, kadang terlalu banyak peluh dan keringat yang menetes, dan kadang harus ada luka yang perih.

_Tapi ketahuilah bahwa dalam benturan benturan itu, mungkin Alloh hendak mempersiapkanmu untuk peristiwa peristiwa yang jauh lebih besar.

Jika hal besar itu benar benar telah hadir dihadapanmu, segeralah letakkan ego...

-Sadarilah kelemahan diri..

- Syukurilah kelebihan orang lain...

_Dan gandenglah ia bersama menempuh jalan itu, meski engkau lebih baik darinya...

_Karena Alloh takdirkan bersama kelebihan kita ada kelemahan..

_Kita selalu butuh orang lain untuk menyelesaikan jalan hidup kita..

_Letakkan lah ego agar badai dan gelombang itu tidak membuatmu tumbang dan kandas ditengah jalan....

Baarakallohu fiikum


M. Nadhif Khalyani
Cara Mencicipi Surga Bersama Pasangan Di Rumah Kita

Cara Mencicipi Surga Bersama Pasangan Di Rumah Kita

Menjadikan rumah tangga serasa surga adalah impian semua orang beriman. Rumah menjadi inti kenikmatan yang mendamaikan. Rumah menjadi idaman bagi seluruh anggotanya untuk berlama-lama berinteraksi dengan hati yang lapang dan bahagia.

 
Sayangnya, impian kebanyakan orang untuk bahagia sering hanya menjadi khayalan. Jauh panggang dari api. Buktinya, kasus perceraian kian marak. Hubungan suami-istri dan seluruh anggota keluarga tidak harmonis hingga rumah tangga harus kandas di tengah amuk perceraian.

Suami-istri berpisah, anak-anak terlantar. Jika pun secara materi tercukupi, ada luka di pikiran dan hatinya. Ada psikologis yang terganggu.

Karenanya, menjadikan rumah tangga serasa surga sangat penting. Para pasangan harus memiliki ilmu yang cukup hingga rumah tangga yang mereka bangun benar-benar mendamaikan, menenteramkan, dan mengundang rindu kala tak bertemu dalam beberapa masa.

Salah satu cara yang bisa digapai agar rumah tangga serasa surga, agar kita bisa mencicipi surga di rumah tangga yang dibangun, adalah dengan melakukan amalan yang telah digariskan oleh Al-Qur’an Al-Karim.

Di surga, orang-orang beriman tidak mendengarkan kalimat yang sia-sia dan berpeluang menimbulkan dosa (Qs. Al-Waqi’ah [56]: 25), mereka juga tidak mendengarkan perkataan yang sia-sia (Qs. Al-Ghasyiyah [88]: 11) dan tidak menyimak perkataan pemicu dusta (Qs. An-Naba’ [78]: 35).

Di surga, tak ada perkataan yang sia-sia. Tak ada kalimat yang berpeluang menjadi pemicu dosa. Tidak didengar pernayataan-pernyataan bohong atau dusta.

Di surga, orang-orang hanya mendengarkan kalimat yang bermakna ucapan selamat, doa kesejahteraan, kalimat yang menyejukkan, menenteramkan hati, dan pernyataan yang menjadikan penghuninya bersemangat untuk melakukan amal-amal kebaikan.

Sedikit berupaya dan bereksperimen, satu bagian inilah yang amat mungkin diamalkan di rumah tangga yang kita bangun. Kerjakan apa yang menjadi anjurannya. Jauhi dan tinggalkan apa yang dilarang. Jangan sekali-kali didekati, apalagi dikerjakan.

Sampaikan kabar gembira ini kepada istri-istri, anak-anak, dan anggota keluarga yang lain. Lalu buatlah kesepakatan yang paling sederhana; ucapkan salam saat masuk dan keluar rumah sembari berdoa dengan kalimat basmalah.

Selanjutnya, biasakan menggunakan rumah untuk beribadah kepada Allah Ta’ala. Gunakan rumah untuk berdzikir, membaca subhanallah, alhamdulillah, Allahu Akbar, dan kalimat thayyibah lainnya.

Gunakan rumah untuk menikmati bacaan Al-Qur’an. Sebab malaikat akan masuk ke dalamnya, dan setan pasti keluar dari dalamnya. Gunakan rumah untuk mendirikan shalat-shalat sunnah, majlis ta’lim, aksi sosial kemasyarakatan, dan sebagainya.

Sebaliknya, jangan biarkan kebiasaan buruk terjadi di dalam rumah kita. Hindari perlahan-lahan kalimat yang kasar. Jangan sampai ada teriakan. Berbisik-bisiklah ketika berkata dua orang saja. Gunakan suara ala kadarnya ketika berdiskusi atau ngobrol santai dengan anggota keluarga lainnya.

Konon disebutkan, orang yang marah memang tak bisa menggunakan kalimat yang lembut. Orang yang marah pasti melontarkan kalimat-kalimat yang kasar. Sebab, marah tempatnya di neraka. Sedangkan surga yang dihadiahkan kepada orang-orang beriman tak mengenal teriakan apalagi kalimat kasar.

Berbisiklah saat berdua dengan pasangan. Berkata lembutlah kepada seluruh anggota keluarga. Terus menerus. Jangan pernah berhenti. Insya Allah, rumah tangga kita akan serasa surga.

Hanya serasa. Hanya mencicipi.

Sebab kenikmatan surga jauh lebih nikmat dari itu. Nikmat surga benar-benar tak terbayang oleh pikiran, belum pernah dilihat oleh mata, tak pernah terdengar oleh telinga, dan benar-benar belum dirasakan oleh seluruh panca indra.

Benar-benar nikmat yang penuh kejutan



*sumber keluarga cinta